Berpikir untuk Menulis atau Menulis untuk Berpikir?



Parlindungan Pardede

parlpard2020@gmail.com

Universitas kristen Indonesia

Menulis merupakan komunikasi interpersonal (yang menuntut seseorang berpikir sebelum menulis) dan sekaligus komunikasi intrapersonal (yang membuat seseorang menulis untuk berpikir).

Konsep-konsep yang tersedia dalam literatur tentang hakikat menulis tampaknya terpolarisasi menjadi dua kutub yang berlawanan. Di satu sisi, menulis dipandang sebagai proses mengkomunikasikan pesan (pikiran, emosi, atau perasaan) melalui symbol-simbol simbol bahasa tulis (huruf, tanda baca, dan spasi). Dalam proses ini, penulis pertama-tama berpikir dan kemudian menulis (menuangkan pikirannya ke dalam tulisan). Di sisi lain, menulis dipandang sebagai proses berpikir atau proses untuk mengklarifikasi, tidak hanya mengkomunikasikan, pemikiran. Kedua pandangan yang berlawanan ini menimbulkan pertanyaan apakah kita berpikir dulu lalu menulis, atau menulis dulu dan kemudian berpikir. (Mirip dengan pertanyaan klasik: ‘Ayam dulu  dan telur?’). Artikel ini mencoba memastikan pandangan mana yang paling dekat dengan hakikat menulis dengan cara mengkaji apa yang sebenarnya terjadi dalam proses penulisan.

Pendukung pandangan yang menyatakan menulis merupakan proses menyampaikan pesan melalui teks umumnya menekankan bahwa tiap penulis, baik yang menulis dengan pulpen atau pensil (tulisan tangan) atau keyboard (mengetik), mengawali penulisan dengan memikirkan ide-ide. Lalu ided-ide itu dituangkan ke dalam teks. Pemikiran penulis yang terkandung dalam teks itu kemudian dibagikan kepada pembaca sasaran. Dengan demikian, seperti berbicara, menulis merupakan komunikasi antarpribadi. Sejalan dengan pandangan ini, Rivers (1968), seorang pakar metodologi pengajaran bahasa tersohor, menyatakan bahwa tulisan mengacu pada pengungkapan ide secara sistematis dengan menggunakan symbol-simbil grafis yang disepakati dalam sebuah bahasa. Penulis kenamaan, Richard Wright, juga mendukung pandangan ini dengan mengatakan bahwa ketika dia menulis, dia mencoba membangun “jembatan kata-kata” antara dirinya dan dunia luar. Metafora ini menunjukkan bahwa menulis merupakan proses menyampaikan pesan penulis kepada pembaca (dunia luar) melalui kata-kata tertulis.

Di pihak lain, mereka yang memandang menulis sebagai proses berpikir menekankan bahwa ketika seseorang menulis, dia pada dasarnya berusaha menemukan ide dengan melakukan komunikasi intrapersonal. White dan Arndt (1991) menyatakan: “Menulis bukanlah sekadar kegiatan mentranskripsi bahasa lisan ke dalam simbol tertulis: menulis adalah proses berpikir.” Sejalan dengan ini, Hunt (2010) menyatakan bahwa menulis bukan hanya proses mengungkapkan ide-ide yang sebelumnya ada dalam pikiran tetapi juga suatu proses ajaib dan misterius yang memungkinkan penulis untuk membangun ide-ide baru. Jadi, proses itu diawali dengan menulis dan dilanjutkan dengan berpikir. Merefleksikan pengalamannya sebagai penulis, William Stafford menekankan, “Saya tidak melihat tulisan sebagai ungkapan dari sesuatu yang sudah tersedia, atau sebagai ‘kebenaran’ yang sudah diketahui. Sebaliknya, …

Untuk membaca teks lengkap, silahkan klik di sini.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s