Menangkal Hoaks dengan Berpikir Kristis


“Dusta akan diterima sebagai fakta oleh orang yang telah dikondisikan untuk memahami kebenaran dengan cara yang salah”, kata DaShanne Stokes, seorang cendikiawan dan penulis Amerika Serikat, untuk mengungkapkan kerisauannya terhadap hoaks yang bertebaran begitu masif di media masa dan media sosial. Walaupun keberadaan hoaks sudah setua peradaban manusia, intensitas pembuatan dan penyebarannya meningkat drastis seiring dengan kemudahan penyebaran informasi melalui jaringan internet, khususnya melalui media sosial. Saking maraknya penyebaran hoaks dan banyaknya anggota masyarakat yang terpedaya, Oxford English Dictionaries (OED) menetapkan istilah “post-truth” (pasca kebenaran) sebagai kata tahun 2016. Terminologi pasca-kebenaran ini mengacu pada situasi yang di dalamnya pembentukan opini publik lebih didominasi oleh faktor emosi dan keyakinan pribadi, bukan oleh fakta-fakta obyektif. Penetapannya sebagai kata tahun 2016 oleh OED dimaksudkan untuk mengganbarkan betapa suburnya hoaks yang didasarkan pada sentimen emosi dan keyakinan personal pada saat ini. Kondisi ini tentu sangat berbahaya, karena anggota masyarakat yang tidak cermat dan tidak mampu menyaring informasi secara kritis akan mudah diperdaya dan ikut menyebarkan hoaks.  Tulisan ini membahas hakikat, dampak, dan cara teknik yang efektif untuk menangkal hoaks.

Hoaks atau berita bohong (dalam Bahasa Inggris disebut “hoax” atau “fake news”) merupakan rangkaian informasi yang sengaja dimanipulasi namun “dijual” sebagai kebenaran.  (Silverman, 2015). Kebanyakan hoaks sengaja dibuat dan disebarluaskan untuk untuk menyesatkan pikiran masyarakat atau membentuk opini yang sesuai dengan keinginan pembuatnya. Senada dengan itu, Wardle dan Derakhshan (2017), mengutip dari The Council of Europe, mendefinisikan hoaks sebagai informasi yang sengaja dimodifikasi dan diterbitkan dengan maksud untuk menipu dan menyesatkan orang lain sehingga mereka mempercayai kebohongan atau, sebaliknya, meragukan fakta-fakta yang dapat diverifikasi.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, jelaslah bahwa hoaks dibentuk dengan menciptakan cerita bohong, memodifikasi atau merekayasa informasi tertentu, dan membumbuinya dengan sentimen emosi dan/atau kepercayaan. Orang yang tidak cermat dan kritis … (untuk melanjutkan membaca, silahkan klik di sini). …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s