Mengatasi “Writers’ Block”


Ketika akan mulai menulis (esai, makalah, artikel, skripsi, dan sebagainya), pernahkah pikiran Anda tiba-tiba dipenuhi oleh banyak hal lain yang terasa mendesak untuk dikerjakan? Meskipun Anda sudah berrencana untuk mulai menulis, namun, secara ajaib, timbul keinginan untuk makan atau minum lebih dahulu, merapikan meja kerja, atau memeriksa WhatsAp dan mengirim pesan kepada teman. Akibatnya? Rencana untuk mulai menulis tertunda! Jika Anda pernah mengalami hal seperti ini, Anda tidak sendiri. Fenomena ini dikenal sebagai writers’ block, sebuah hambatan psikologis yang menghalangi seseorang mulai menulis yang bisa terjadi kepada siapapun, termasuk penulis professional. Jika seorang penulis hanya duduk membisu sambil menatap kedipan kursor di monitor laptop-nya, dia sedang diserang writer’s block. Saya sendiri mengalaminya ketika  akan mulai menulis esai ini. Ketika akan menyalakan laptop, terbersit hasrat untuk lebih dahulu mendapatkan secangkir kopi. Untunglah saya sadar keinginan ini sebenarnya didorong oleh motif untuk menunda aktivitas menulis. Kesadaran ini membantu saya tetap meraih laptop dan mulai mengetik kerangka tulisan. Seandainya saya menuruti keinginan untuk lebih dahulu minum kopi, pasti penulisan esei ini tertunda. Akibatnya, esei ini mungkin saja belum saya selesaikan. Jika Anda dijangkiti writers’ block, ingatlah pesan Louis L’Amour, novelis produktif Amerika: “Mulailah menulis, dan jangan risaukan apa yang Anda tulis. Air tidak akan mengalir sebelum keran dibuka.” Esei ini memaparkan lima strategi untuk mengatasi writers’ block.

Strategi pertama untuk mengatasi writers’ block adalah membuat jadual penulisan dan tenggat waktu penyelesaiannya. Tentukan berapa hari Anda perlukan dan pada hari apa saja Anda akan menulis untuk menyelesaikan sebuah makalah. Patuhi jadual tersebut dengan cara duduk, nyalakan laptop, dan mulailah menulis. Jangan mau digoda oleh hal lain. Tidak perlu khawatir dengan kualitas draf yang Anda tulis, karena semua kekurangan toh akan direvisi kemudian. Selain itu, ingatlah bahwa memulai menulis sebuah proyek tidak harus dilakukan secara linier–mulai dari bagian awal (judul, alinea pertama atau bagian pengantar) dan selanjutnya ke bagian tengah dan akhir. Anda bisa memulai dari bagian mana saja. Jika Anda merasa buntu untuk memulai dari alinea pertama, pilih bagian lain dari proyek tersebut yang menurut Anda lebih mudah ditulis. Jodi Picoult, novelis  terkenal dari Amerika menegaskan, “Kapanpun Anda dapat mengedit halaman (tulisan) yang jelek, tapi Anda tidak pernah bisa mengedit halaman yang kosong.” Dengan kata lain, untuk menghasilkan karya tulis, mulailah menulis. Kegiatan menulis biasanya menjadi lebih mudah dan menyenangkan setelah kalimat-kalimat atau alinea pertama terwujud.

Strategi kedua, apresiasi … (untuk melanjutkan membaca, silahkan klik di sini). …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s