Keingintahuan: Energi dalam Belajar


Keingintahuan: Energi dalam Belajar

 Parlindungan Pardede

 Universitas Kristen Indonesia

 

Apa yang membedakan manusia dan mahluk hidup lainnya? Jawabannya adalah kemampuan manusia mengembangkan segala sesuatu untuk mempernyaman hidupnya. Manusia dan beruang sama-sama tinggal di gua pada zaman pra-sejarah. Namun generasi manusia berikutnya membangun gubuk, kemudian rumah sederhana hingga gedung mentereng dengan perlengkapan canggih. Sedangkan beruang tetap tinggal di gua hingga saat ini. Manusia terus menerus melakukan perbaikan pada rumahnya, sedangkan burung tak sekalipun berangan-angan, apalagi berupaya, mengganti dahan kayu dan rerumputan dengan beton dan busa empuk untuk membangun sarangnya. Dalam berkomunikasi, manusia mengembangkan bahasa lisan menjadi simbol-simbol tertulis. Pada awalnya simbol-simbol itu diukir di atas batu, lalu dikembangkan menjadi simbol tertulis di atas daun, kulit, kertas. Pada tahap selanjutnya, simbol-simbol tersebut dikonversi ke menjadi gelombang elektronik (telegram) dan dijital (internet). Di lain pihak, kancil yang terkenal sebagai binatang cerdik sekalipun belum (dan tidak akan) pernah mengirim email kepada sesamanya.

Yang membuat manusia dapat mengembangkan segala hal dalam kehidupannya, sedangkan binatang atau tumbuhan tidak, adalah keingintahuan (curiosity) yang tak terbatas dalam diri manusia. Keingintahuan terus mendorong manusia untuk mengamati, bertanya, bereksperimen, dan menjelajah. Ketika kepalanya tertimpa buah apel, Isaac Newton bertanya-tanya, mengapa buah apel jatuh ke bawah, bukan ke samping, atau ke atas? Keingintahuan ini akhirnya menghasilkan teori gravitasi. Mungkin kepala sapi juga pernah tertimpa buah jambu sewaktu menggosokkan badannya ke pohon jambu. Namun, keingintahuannya sangat terbatas, si sapi tidak pernah bertanya mengapa buah jambu jatuh ke bawah. Paling-paling dia hanya berpikir (itupun kalau dia mau menggunakan otaknya yang bervolume 3 kilogram—lebih dari dua kali lipat dari otak manusia yang rata-rata bervolume 1,4 kilogram) memang hal itu sudah seharusnya begitu. Akibatnya, hukum gravitasi tidak pernah ditemukan oleh “masyarakat” sapi.

Karena dorongan keingintahuan, manusia tak berhenti belajar sejak dilahirkan (bahkan mungkin sejak dalam kandungan). Bisakah Anda mengingat bahwa sejak kecil Anda terus dihadapkan pada banyak hal baru? Karena hal-hal baru memuat hal-hal yang asing, Anda terdorong ingin memahaminya. Bagi anak berusia setahun, lilin yang menyala merupakan sesuatu yang baru dan menakjubkan. Setelah menyentuh apinya, dia jadi tahu api itu panas. Dengan cara yang relatif sama, si anak kecil juga memahami bahwa coklat itu manis, es krim itu dingin, remote control dapat digunakan untuk menyalakan atau mematikan TV, dan sebagainya.

Penjelasan dan contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa pengamatan, penelitian atau penjelajahan yang didorong oleh rasa ingin tahu menghasilkan temuan. Temuan tersebut kemudian membentuk pengetahuan. Proses inilah sebenarnya yang disebut sebagai pemelajaran, dan pengetahuan yang diperoleh melalui pemelajaran seperti ini secara umum takkan pernah menguap dari pikiran seseorang. Buktinya, setelah menyentuh api ketika kanak-kanak, pernahkah Anda lupa bahwa api itu panas? Setelah menyentuh, mengupas, dan memakan jeruk, pernahkan Anda melupakan jeruk? Jadi, keingintahuan merupakan energi yang menggerakkan pemelajaran. Energi ini dapat bandingkan dengan fungsi listrik bagi televisi, AC, komputer, dan peralatan lain; atau fungsi bensin atau solar bagi kendaraan bermotor. Tanpa listrik, televisi tidak akan menyala. Tanpa bensin atau solar, mobil akan mogok.Tanpa curiosity, pemelajaran tidak akan berlangsung! Plutarch, filsuf, sejarawan dan penulis Romawi terkenal yang hidup di Abad I Masehi menegaskan pikiran bukanlah bejana untuk diisi, tetapi api untuk disulut.

Mengapa keingintahuan berperan sebagai enerji dalam belajar? Hal ini disebabkan paling tidak oleh empat hal. Pertama, keingintahuan membuat pikiran aktif. Keingintahuan mendorong individu selalu bertanya dan mencari jawaban. Pikirannya tidak pernah pasif. Karena pikiran mirip dengan otot yang semakin kuat karena dilatih secara teratur, latihan-latihan mental yang dipicu oleh rasa ingin tahu akan membuat pikiran semakin tajam.

Ke dua, keingintahuan membuat pikiran terbuka terhadap hal-hal baru dan berbagai kemungkinan pada hal-hal biasa. Bagi bayi berusia enam bulan, sebuah jeruk adalah sesuatu yang baru. Makanya dia tak henti berupaya menyentuh, mencium, menggigit, melempar buah tersebut. Mengapa orang dewasa tidak melakukan hal yang sama? Karena mereka menganggap sudah mengetahui segala hal tentang jeruk. Buah itu tidak lagi menjadi hal baru bagi mereka. Namun, jika orang dewas tadi berhasil melihat jeruk dengan perspektif baru, buah itu kembali menarik untuk diamati. Robert B. Gagosian, Presiden dan Direktur Eksekutif Consortium for Ocean Leadership menjelaskan rasa ingin tahuadalah berpikir di luar dari yang biasa dipikirkan. Misalnya, ketika Anda mendaki gunung dan melihat punggung bukit, rasa ingin tahu mendorong Anda juga bertanya pada diri sendiri, “Apa yang terdapat di sekitar punggung bukit tersebut? Bagaimana sayabisa ke sana?Bagaimana wujud benda-benda di tempat itu? Karena melihat hal-hal baru merupakan pengalaman menarik, Anda semakin terdorong bereksplorasi. Gagosianmenegaskan, kira rasa ingin tahu adalah kegirangan yang timbul selama melakukan proses berpikir di luar kebiasaan.

Fakta bahwa keingintahuan membuat pikiran terbuka terhadap hal-hal baru dan berbagai kemungkinan mengindikasikan bahwa keingintahuan merupakan landasan kreativitas (proses menghasilkan sesuatu yang baru dalam bentuk gagasan, objek, atau susunan yang baru. Wright bersaudara menemukan pesawat terbang karena ingin tahu apakah manusia bisa terbang seperti burung. Keingintahuan ini kemudian mendorong mereka menghubungkan dan mengelaborasi (memodifikasi, mengurangi, memperkaya dan mengombinasikan) sayap burung dan tenaga mesin untuk membuat peesawat terbang.

Ke tiga, keingintahuan meningkatkan gairah hidup. Individu dengan rasa ingin tahu yang tinggi tak pernah merasa bosan. Baginya, kehidupan bukanlah sekedar rutinitas yang menjemukan, tetapi petualangan yang mengasyikkan. Rasa ingin tahunya yang tinggi memampukannya menemukan berbagai hal baru atau melihat berbagai aspek baru dalam hal-hal biasa. Dalam pembelajaran di sekolah, siswa dengan keingintahuan yang tinggi akan belajar dengan penuh semangat. Sedangkan siswa tanpa keingintahuan akan belajar ogah-ogahan. Mari kita lihat perbedaan gambaran kedua siswa berikut.

Walau sedang musim kemarau, si Apatis sering memulai harinya dengan “hujan lokal” karena ibunya harus menyiram mukanya dengan air agar bisa bangun dan berangkat ke sekolah. Walau membawa tas besar yang dipenuhi lap top, berbagai buku teks yang tebal, buku catatan dan alat-alat tulis yang lengkap, dia berangkat ke sekolah tanpa rasa ingin tahu. Bagaikan mobil tanpa bahan bakar, yang harus didorong agar bergerak, Apatis bersekolah hanya karena kombinasi paksaan orang-tua dan rasa malu pada orang lain. Agar tidak terlalu tertekan setiap berangkat ke sekolah, dia coba menganggap sekolah sebagai taman bermain. Paling tidak dia masih dapat menghabiskan waktu dengan beberapa teman yang sepandangan hidup.

Kalau kelas belum dimulai, Apatis biasa mencari teman-teman sepandangan hidup di tempat parkir untuk ngalor-ngidul membunuh kejenuhan. Kalau tidak ada teman di sana, dia mengakses internet untuk menanggapi komentar beberapa teman di jejaring sosial. Beberapa menit setelah pelajaran dimulai, pikirannya mengembara ke tempat lain. Ketika teman-teman sekelasnya asyik mengikuti penjelasan guru tentang teori evolusi, yang dilanjutkan dengan diskusi kelompok seru tentang teori itu, pikirannya justru melayang pada film Terminator yang dibintangi Schwarzenegger, yang diakuinya sebagai idolanya. Jangan heran bila dia tidak tahu apapun tentang peran Darwin pada teori evolusi dan hubungan teori itu dengan molekul DNA yang ditemukan Mendel. Tapi, jika dia ditanya tentang Schwarzenegger, yang bisa dijelaskannya hanyalah peran bintang film berotot itu dalam The Terminator, Terminator 2: Judgment Day, Terminator 3: Rise of the Machines. Sedikitpun tidak diketahuinya tentang perjalanan hidup Schwarzenegger sebelum membintangi film di Hollywood, apalagi tentang kiprahnya sebagai Gubernur Calfornia selama dua periode.. Kenapa bisa begitu? Sedikitpun dia tidak ingin mengetahui sisi lain dari idolanya sekalipun.

Jika tas sekolah Apatis diperiksa, akan terlihat semua buku pelajarannya mulus seperti ketika dibeli. Pulpennya awet karena tidak pernah digunakan menulis. Satu-satunya barang yang terlihat agak lecek (karena dibaca beberapa kali menjelang tidur) di dalam tas itu hanyalah fotocopian catatan teman yang dibuat beberapa hari menjelang ujian. Seringkali uapaya tidur bersama fotocopian itu tidak dapat membekalinya menghadapi ujian. Kalau sudah begini, dia akan memainkan jurus pamungkasnya—nyontek dari teman. Apa yang bisa diharapkan dari Apatis setelah dia lulus?

Berbeda dengan Apatis, Wonder tidak pernah terlambat bangun pagi. Bahkan dia masih sempat membaca beberapa bab buku teks yang akan dipelajari di sekolah sebelum berangkat. Wonder menuju sekolah dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Malah dia sudah mencatat beberapa poin yang belum dipahaminya pada saat membaca tadi. Poin-poin itu akan ditanyakan pada guru atau teman-temannya pada saat belajar nanti. Tas sekolah Apatis dipenuhi dengan berbagai buku dan alat tulis yang dibutuhkan dalam semua mata pelajaran hari ini. Namun, berbeda dengan Apatis, semua buku teks milik Wonder terlihat agak kumal karena sering dibaca. Di berbagai tempat terlihat berbagai catatan singkat, coretan, kata-kata yang digarisbawahi atau distabilo. Dengan rasa ingin tahu yang begitu tinggi, kesiapan Wonder belajar dapat dianalogikan dengan pesawat bermesin turbojet yang sudah siap lepas landas dan tankinya penuh dengan Avtag.

Sebagai seorang pemuda, seperti Apatis, Wonder juga memiliki idola. Salah satu tokoh favoritnya adalah Levi Strauss. Kekagumannya pada tokoh ini berawal dari keinginannya menghargai penemu pakaian kesukaannya—jean. Dia yakin pasti ada tokoh dibelakang  tekstil yang mendunia itu. Untuk memuaskan rasa ingin tahunya itu, dia mencoba mengakses internet dan membaca buku dan majalah tentang jean. Usahanya tidak sia-sia. Jika diminta menjelaskan, dengan fasih dia akan memaparkan bagaimana Levi Strauss, secara kreatif, menemukan pakaian yang kuat ini pada tahun 1872 di Amerika Serikat. Pada saat itu, Strauss yang berbisnis tekstil kehabisan stok. Yang tersisa hanyalah bahan pembuat tenda dari kanvas. Agar bisnis tetap berjalan, dia berpikir keras dan akhirnya mencoba membuat celana dari bahan kanvas tersebut dan memasarkannya. Ternyata celana yang kuat dan tak mudah sobek itu disenangi para pekerja tambang dan laku keras. Hal ini memotivasi Strauss terus berinovasi dan mengembangkan jeans yang dipatenkannya dengan merek Levi’s. Dalam paparannya, Wonder tidak melupakan tantangan yang dihadapi Strauss. Dengan memikat, dia menjelaskan bagaimana Strauss harus berjalan kaki ratusan kilometer menjajakan dagangannya. Dia juga harus senantiasa siap mental menghadapi para “jagoan” di pertambangan. Berkat keuletan dan kerja kerasnya, Strauss berhasil menjadi pengusaha sukses yang menyediakan lapangan kerja bagi jutaan orang, bahkan hingga abad 21 ini.

Apa yang membuat Wonder dan Apatis begitu berbeda? Keingintahuan! Ditilik dari aspek ini, kepada siapa kamu lebih mirip, Wonder atau Apatis? Saya berdoa agar semua pembaca memiliki profil yang sama dengan Wonder, atau berupaya menjadi seperti dia. Bagaimana caranya? Tingkatkan rasa ingin tahu Anda dengan melaksanakan kiat-kiat Malcom Knowles yang diadopsi dari Self-Directed Learning berikut.

Ketika mempelajari sesuatu, tanyakan pada dirimu—bila perlu catat di buku catatan atau bagian kosong (marjin) buku teks yang dibaca—pertanyaan-pertanyaan berikut. (1) Pertanyaan-pertanyaan (atau keterampilan) apa yang ingin dapat kujawab (atau kulakukan) setelah selesai mempelajari topik ini? Apakah jawaban (atau keterampilan) yang akan kuperoleh (atau kukuasai) tersebut bermanfaat bagiku (untuk menghadapi ujian serta mengembangkan diri untuk mencapai cita-cita)? (2) Data atau informasi apa saja yang kuperlukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu? Darimana saja data atau informasi itu dapat kuperoleh, buku teks, koran, internet? (3) Sarana apa saja yang kuperlukan agar dapat mengakses sumber-sumber informasi dan data tersebut? Mana yang paling efektif dan efisien kuakses dilihat dari segi waktu dan dana? (4) Bagaimana informasi dan data-data itu kukumpulkan dan kususun agar mudah kuanalisis? (5) Bagaimana hasil analisis itu kucatat agar lebih mudah kupelajari kembali bila kubutuhkan? Dalam buku catatan? Dalam bentuk makalah?

Dengan keingintahuan yang tinggi, Anda belajar dengan suka cita, memahami secara mendalam, memandang kesulitan sebagai tantangan dan tidak mengenal jemu, apalagi lelah. Michio Kaku, fisikawan dan penulis terkenal dari  City College of New York mengatakan bahwa sains adalah mesin kemakmuran, tetapi bahan bakar roket yang mendorong dan menjadi tenaga mesin ini adalah keingintahuan. Jika rasa ingin tahu membuat Michio Kaku dan ilmuwan lain terus meneliti dengan penuh gairah, enerji ini juga akan mendorong Anda menjadi individu yang luar biasa, baik di kampus maupun di tempat kerja. 


Jakarta, 27 April 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s