Mengenal Puisi


Mengenal Puisi

Parlindungan Pardede
Universitas Kristen Indonesia

Pengertian Puisi
Secara etimologis, istilah puisi berasal dari kata Yunani poietes, yang bermakna “pembangun”, “pembentuk”, atau “pembuat”. Kata ini berasal dari kata poieo, yang artinya “membangun”, “membentuk”, “menghasilkan”, atau “menimbulkan”. Menurut Purba (2010: 9-10), makna kata poietes, kemudian menyempit menjadi “hasil seni sastra, yang kata-katanya disusun menurut irama, sajak, dan kadang-kadang ungkapan kiasan.” Dari kata poieo tersebut juga dibentuk kata poet, yang berarti “orang yang mencipta sesuatu melalui imajinasinya, orang yang hampir menyerupai dewa-dewa, atau orang yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.

Senada dengan batasan etimologis di atas, definisi-definisi puisi yang diajukan penyair dan peneliti puisi pada umumnya mencoba membatasi puisi dengan membandingkannya dengan prosa. Bonn (2010: 130) berpendapat bahwa puisi merupakan tulisan yang digunakan untuk menyajikan ide dan membangkitkan pengalaman emosional dalam diri pembaca melalui penggunaan matra, citra (imagery), kata-kata kongkrit dan konotatif, serta struktur yang dirancang dengan hati-hati berdasarkan pola-pola ritmis. Sedangkan Constantakis (2010: 315) menyatakan bahwa puisi merupakan karya sastra yang digunakan untuk mengungkapkan ide dan membangkitkan pengalaman emosional dalam diri pembaca melalui penggunaan matra, pencitraan, kata-kata konkrit dan konotatif, majas, dan struktur yang dibangun dengan seksama dengan menggunakan pola-pola rima, ritme, matra, bait, struktur tertentu. Sudjiman (1984: 64) membatasi puisi sebagai ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Sedangkan Baldick (2001: 198) mendefinisikan puisi sebagai bahasa yang dinyanyikan, diucapkan, atau ditulis dengan menggunakan beberapa pola pengulangan bunyi (berbentuk rima atau matra atau keduanya) dan pola verbal yang khas (seperti bahasa figuratif, diksi puitis, dan variasi sintak) yang menekankan hubungan antara kata-kata berdasarkan bunyi dan makna. Penggunaan pola-pola bunyi dan verbal tersebut membuat puisi muncul sebagai ungkapan yang lebih padat dan indah daripada prosa atau ungkapan sehari-hari.

Berbagai batasan di atas memperlihatkan bahwa, sama dengan jenis karya sastra lainnya (prosa dan drama), puisi merupakan seni bermedia kata yang digunakan untuk mengungkapkan pengalaman, ide, dan emosi. Namun, dibandingkan dengan karya sastra lain, puisi memiliki berbagai unsur khas, yaitu bait, rima, dan matra. Unsur-unsur ritmis ini dipadu dengan unsur-unsur estetis—majas (bahasa figuratif), yang memperkaya makna; konotasi, yang mengungkap berbagai lapisan makna; serta pencitraan (imagery), yang merangsang panca-indera. Perpaduan unsur-unsur ritmis dan estetis ini memampukan puisi mengungkapkan makna yang berlapis-lapis dan sekaligus indah didengar. Oleh karena itu, Mock (1998: 8) menyatakan bahwa puisi merupakan ungkapan artistik dari imajinasi yang terjadi di dalam bahasa. Imajinasi tersebut dituangkan dengan padat dan tepat ke dalam bahasa yang ekspresif melalui citra, metafora, bunyi, dan rima, serta melalui kerjasama antara unsur-unsur tersebut.

Unsur-Unsur Puisi
Sebagai karya sastra, puisi adalah karya seni yang menggunakan kata-kata sebagai media. Kata-kata merupakan satu-satunya sarana bagi penyair untuk membuat puisi. Namun, walau hanya bermodalkan kata-kata, penyair dapat mewujudkan empat hal sekaligus: (1) menghasilkan bunyi yang menarik; (2) mengungkapkan makna dengan efektif; (3) menarik minat pembaca dengan cara melibatkan imajinasi dan emosi mereka; dan (4) membentuk baris-baris dan bait yang memudahkan pembaca menikmati dan memahami pengalaman, ide, atau emosi yang disampaikan.
Penyair dimungkinkan mencapai keempat hal itu karena pada umumnya bahasa menyediakan sejumlah besar kata-kata yang dapat dipilih dan dirangkai untuk membentuk unsur-unsur pembangun puisi, yang oleh Waluyo (1991: 4) dikelompokkan ke dalam dua jenis: struktur fisik dan struktur batin.

Struktur Fisik Puisi
Struktur fisik puisi mengacu pada unsur-unsur bahasa yang terlihat atau terdengar pada tingkat permukaan (surface level) puisi. Struktur fisik meliputi tipografi, diksi, imaji, bahasa figuratif, dan versifikasi.

Tipografi mengacu pada pola penggunaan halaman buku atau kertas sebagai “kanvas” oleh penyair. Dengan kata lain, tipografi berhubungan dengan cara penyair menuliskan puisinya sehingga menampilkan bentuk-bentuk tertentu yang dapat diamati secara visual. Pola penggunaan marjin, pengaturan baris yang membentuk bait, pengawalan baris dengan atau tanpa huruf kapital, dan pengkahiran baris dengan atau tanpa tanda baca akan mempengaruhi tipografi sebuah puisi. Perwajahan ini tidak hanya dimaksudkan untuk menarik minat pembaca secara visual, tetapi juga sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.

Esensi tipografi sebagai pengungkap makna dapat dilihat terutama dari pola pengaturan baris. Dalam puisi, baris merupakan unit puisi yang paling mendasar karena setiap baris mengungkapkan satu pokok pikiran (yang dalam prosa dilakukan oleh kalimat). Karena setiap baris dalam puisi harus relatif pendek, kata-kata yang menyusunnya harus diseleksi dengan ketat agar dapat mengungkapkan pesan dengan efektif. Selain itu, pokok pikiran (ide, gambaran, atau emosi) itu harus menyatu dengan pokok pikiran pada baris-baris berikutnya.

Selain menjadi penentu wujud perwajahan dan menjadi penyampai ide, setiap baris puisi juga harus mengusung rima, ritme, dan matra. Dalam puisi yang baik, pola bunyi ritmis yang dihasilkan oleh rima, ritme, dan matra yang digunakan juga disesuaikan dengan ide. gambaran, atau emosi yang dikomunikasikan. Melihat pentingnya peran baris dalam puisi, Bugeja (1994: 151) mengatakan bahwa baris merupakan urat nadi dalam puisi.

Unsur kedua, diksi, mengacu pada pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi merupakan karya sastra yang relatif pendek, jumlah kata yang digunakan biasanya terbatas. Namun karena kata-kata yang sedikit itu harus dapat mengungkapkan banyak hal, kata-kata tersebut harus dipilih secermat mungkin agar dapat memfasilitasi pembentukan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Menurut Geoffrey (1987: 66-69), terdapat sembilan prosedur yang memfasilitasi penyair menggunakan seditit kata-kata untuk mengungkapkan banyak hal: penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register, penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (huruf kapital dan tanda baca).

Imaji merupakan kata atau susunan kata-kata yang dapat meransang pengalaman indrawi—penglihatan, pendengaran, peraba, pengecap, dan penciuman maupun emosi dan gerakan. Penggunaan imaji memungkinkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, atau merasakan apa yang dialami penyair. Imaji dapat digunakan untuk menciptakan suasana (mood) dan nada (tone) yang dibutuhkan. Imaji juga berpotensi untuk memicu pembaca merefleksikan ide yang disajikan.

Bahasa figuratif atau majas merupakan ungkapan berkias, yang maknanya menyimpang dari makna denotatif kata-kata pembentuknya. Penggunaan majas biasanya menimbulkan dan meningkatkan efek konotatif tertentu. Waluyo (1991: 83) menjelaskan bahwa majas menyebabkan puisi menjadi prismatis, atau memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Sedangkan Addonizio dan Laux (1997: 96) menyatakan bahwa majas dapat digunakan untuk memperdalam dan memperkuat tema puisi. Majas terdiri dari berbagai bentuk, antara lain: metafora, simile, penginsanan hiperbol, ironi, mentonimia, anafora, pleonasme, dan paradoks.

Versifikasi mengacu pada pola struktur bunyi tertentu yang diterapkan dalam sebuah puisi. Versifikasi dibangun oleh rima, ritme, dan matra. Rima dihasilkan dari persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris. Rima mencakup: (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi alami); (2) bentuk internal pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, dan repetisi bunyi); dan (3) pengulangan kata/ungkapan. Ritme timbul dari tinggi rendah, panjang pendek, atau keras lemahnya bunyi. Sedangkan matra mengacu pada pola penggunaan tekanan (stress) pada suku-suku kata yang terdapat dalam sebuah baris.

Struktur Batin Puisi
Struktur batin puisi mengacu pada unsur-unsur makna, yang tidak terlihat atau terdengar pada tingkat permukaan puisi. Struktur ini mencakup tema (sense), nada (tone), rasa (feeling), dan tujuan (intention). Unsur-unsur ini harus disimpulkan oleh pembaca melalui struktur fisik.

Secara umum, tema mengacu pada subjek atau topik yang dihadirkan dalam sebuah karya, yang dapat dirumuskan dengan menjawab pertanyaan: “Apa yang dibahas puisi ini?” Oleh karena itu, lautan, kemerdekaan, keindahan alam, atau keserakahan bisa saja menjadi tema sebuah puisi. Menurut Preminger dan Brogan (1993: 1281), para kritisi sastra cenderung mengacu tema pada isi doktrinal yang harus dimiliki oleh setiap karya sastra yang bagus. Isi doktrinal ini dinamai dengan berbagai istilah yang cukup beragam, seperti “moral”, “pesan”, “ajaran”, “tesis”, “interpretasi” atau “ide”. Isi doktrinal inilah yang dianggap sebagai unsur yang memperdalam dan memperkaya pengalaman membaca sebuah puisi.

Setiap puisi melibatkan dua orang, penyair dan pembaca. Sehubungan dengan itu, rasa (feeling) mengacu pada sikap penyair dan pembaca terhadap tema yang tersaji dalam puisi. Dari sisi si penyair, pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologis penyair. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung hanya pada kemampuan penyair memilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi tetapi juga pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya. Dari sisi si penyair, reaksinya terhadap terhadap tema yang tersaji dalam puisi yang dibaca juga dipengaruhi oleh wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadiannya.

Nada (tone) mengacu pada suasana yang terbentuk dalam sebuah puisi sebagai dampak dari sikap penyair terhadap pembaca dan tema yang disajikannya. Nada berhubungan erat dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada yang jenaka, bersahabat, menggurui, kontroversial, memandang rendah pembaca, dan sebagainya. Sehubungan dengan itu, menurut Waluyo (2009: 37), puisi bisa bernada sinis, protes, menggurui, memberontak, main-main, serius (sungguh-sungguh), patriotik, belas kasih (memelas), mencemooh, kharismatik, filosofis, atau khusyuk.

Tujuan (intention) mengacu pada motif yang mendorong penyair menulis puisinya. Pemahaman terhadap motif ini akan sangat membantu pembaca mengapresiasi sebuah puisi. Pembaca dapat menelusuri motif tersebut berdasarkan latar belakang (kehidupan, psikologis, sosial, dan sebagainya) si penyair maupun melalui puisi yang sedang dibacanya.

Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa puisi merupakan jenis karya sastra yang dibentuk dari satu atau lebih bait yang dibangun oleh sejumlah baris yang terdiri dari sejumlah kata. Kata-kata tersebut dipilih secara ketat sehingga ukuran baris relatif pendek dan ide yang disampaikan menjadi “padat” (condensed). Kata-kata itu juga diatur dengan susunan tertentu untuk menghasilkan rima, ritme, dan matra yang menarik dan selaras dengan ide yang disampaikan. Keberadaan rima dan matra yang diatur sedemikian rupa tersebut akan menghasilkan efek ritmis ketika dibaca bersuara sehingga puisi menarik untuk didengar.

Menurut Mandel (1998: 81), hingga abad ke-20, keberadaan bait, rima, ritme, dan matra dipandang sebagai ciri khas yang menghadirkan keindahan dalam puisi sehingga Allen Poe menyatakan puisi adalah “The Rhythmical Creation of Beauty.” Akan tetapi, Rffaterre (dalam Purba, 2010 12) menyatakan bahwa penggunaan bait, rima, ritme, dan matra dalam puisi modern sudah semakin fleksibel karena evolusi puisi yang timbul sebagai akibat dari perubahan selera dan konsepsi estetiknya. Berbagai penyair kontemporer cenderung menghindari penggunaan struktur dan bentuk puisi konvensional tersebut dan menulis puisi bersajak bebas (free verse). Secara khusus, kecenderungan untuk melanggar pakem tersebut terlihat dalam puisi eksperimental dan puisi prosa. Walaupun telah terjadi berbagai pelanggaran pakem dalam penciptaannya, bentuk puisi tetap dapat dibedakan dari prosa, dan berbagai karakteristik dasar struktur puisi akan tetap terlihat, bahkan dalam puisi bersajak bebas.

Meskipun puisi selalu mengalami perubahan sebagai akibat perubahan selera dan konsep estetik, ada satu hal yang tinggal tetap dalam puisi, yakni puisi mengungkapkan pengalaman, ide, dan emosi secara padat, ekspresif, dan lebih “kuat” dibandingkan dengan prosa. Salas (2008: 18) menegaskan bahwa meski muncul dalam berbagai bentuk, semua puisi mengandung satu hal yang umum, yakni bahasa yang kuat. Karena berukuran relatif pendek, puisi menggunakan kata-kata spesifik yang “berkilauan” hingga menarik minat pembaca. Wolosky (2001: 3) mendukung hal ini dengan menyatakan bahwa puisi merupakan bahasa yang setiap elemen penyusunnya—kata dan susunan kata, bunyi dan jeda, citra dan gaung—signifikan, karena setiap elemen mengacu pada hubungannya dengan elemen-elemen lain.

Referensi

Addonizio, Kim and Dorianne Laux. The Poet’s Companion: A Guide to the Pleasures of Writing Poetry. (New York: W. W. Norton & Company, 1997).
Baldick, Chris. The Concise Oxford Dictionary of Literary Terms (2nd ed.) (New York: Oxford University Press Inc., 2001).
Bonn, Julien D. (Ed.) Comprehensive Dictionary of Literature. (Chandigarh: Abhishek Publication, 2010).
Bugeja, Michael J. The Art and Craft of Poetry. (Cincinnati: Writer’s Digest Books, 1994).
Constantakis, Sara. Poetry for Students (Vol. 33). (Farmington Hills: Cengage Learning, 2010).
Mandel, Oscar. Fundamentals of the Art of Poetry. (Sheffield: Sheffield Academic Press, 1998).
Preminger, Alex and T. V. F. Brogan. The New Princeton Encyclopedia of Poetry and Poetics. (New Jersey: Princeton University Press, 1993).
Purba. Antilan. Sastra Indonesia Kontemporer. (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010).
Sudjiman, Panuti. Kamus Istilah Sastra. (Jakarta: UI Press, 1984).
Waluyo, Herman J. Teori dan apresiasi Puisi. (Jakarta: Erlangga, 1991).
_______. Apresiasi Puisi: untuk Pelajar dan Mahasiswa. (Jakarta: Gramedia, 2009).
Wolosky, Shira. The Art of Poetry: How to Read a Poem. (New York: Oxford University Press, 2001)

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s