Peran Usia dan Jender Dalam Realisasi Kesantunan Berbahasa Indonesia Mahasiswa


PERAN USIA DAN JENDER DALAM REALISASI KESANTUNAN BERBAHASA INDONESIA MAHASISWA: SEBUAH STUDI PRAGMATIK

 

Parlindungan Pardede

Universitas Kristen Indonesia 

 

Abstrak

As a social variable, age and gender play an essential role in determining the patterns, flow, and contents of speech acts in any interpersonal communication. This paper reveals the role of age and gender in Indonesian university students’ linguistic politeness. The subjects were 28 students of FKIP-UKI who were grouped into 18-23 years old group and 41-48 years old group.  The data was obtained by asking them to fill in a Discourse Completion Test questionnaire and responding to an interview. The results of the analysis reveal some differences in the realization of linguistic politeness among subjects with different age and gender. Younger speakers were inclined to use straighter (more direct) refusal strategy, extensively use slangs, and frequently use informal addresses.  In relation to gender, women tended to use indirect refusal strategy and were apt to utilize longer and more detailed explanations as a means to prevent their addressees’ disappointment.

Key words:  usia, jender, kesantunan, pertuturan, penutur, mitra tutur.

Pendahuluan

Usia adalah salah satu faktor penentu utama keanekaragaman bahasa. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa usia (sebagaimana halnya jender, kelas sosial, dan asal-usul etnis)  merupakan salah satu faktor penentu posisi seseorang dalam masyarakat, yang secara otomatis menjadi faktor penting penyebab keanekaragaman berbahasa (Singh and Peccei, 2004: 114). Dalam setiap masyarakat, setiap tingkatan umur biasanya menggunakan tuturan dengan ‘cita-rasa’ yang khas. Ungkapan anak-anak biasanya berbeda dengan tuturan remaja, orang dewasa, maupun orang tua.

Penelitian tentang hubungan antara usia dan bahasa, khususnya yang terkait dengan keanekaragaman berbahasa, banyak yang diarahkan untuk melihat fenomena perilaku berbahasa seseorang seiring dengan berubahnya usia sosial, bukan usia biologis, seseorang. Dengan kata lain, kajian perilaku berbahasa seseorang berkaitan lebih erat dengan usia sosialnya, yang tentu saja dipengaruhi oleh usia biologisnya. Sejumlah penelitian longitudinal tentang hubungan antara perilaku berbahasa seseorang dengan perubahan usia sosialnya mengungkapkan bahwa semakin tua seseorang maka dia akan semakin konservatif (Aziz, 2003: 241). Hal ini terlihat dari semakin tingginya kepedulian seseorang terhadap penggunaan ragam standar dan kosa kata formal seiring dengan bertambahnya usianya, sebagai akibat dari tekanan atau tuntutan yang diperoleh di tempat kerja. Akan tetapi ketika dia memasuki usia pensiun, perilaku berbahasanya kembali ke ragam santai sehubungan dengan menurunnya hasrat untuk bersaing dalam untuk memperoleh kekuasaan (Labov, dalam Aziz, 2003: 241). Sedangkan kelompok usia remaja cenderung berada pada posisi selalu ingin memberontak terhadap aturan-aturan kebahasaan yang ‘dianjurkan’ atau digunakan orang tua.

Selain usia, jender juga merupakan faktor utama yang mengakibatkan keanekaragaman bahasa. Malmkjær (2002: 302) menjelaskan bahwa kajian jender yang terkait dengan kebahasaan sering terfokuS pada perbedaan antara tuturan yang digunakan perempuan dan laki-laki. Survey yang dilakukan Coates (dalam Malmkjær, 2002: 302) terhadap berbagai kajian tentang pengaruh jender penutur terhadap variasi kebahasaan memperlihatkan adanya tuturan yang secara ekslusif lebih disukai kaum perempuan dan tuturan lain yang secara ekslusif lebih disukai laki-laki. Sebagai contoh, dalam interaksi antar jender, perempuan secara umum mengajukan lebih banyak pertanyaan, menggunakan tuturan yang lebih santun, dan lebih sedikit memotong pembicaraan daripada laki-laki. Selain itu, bertolak belakang dengan mitos bahwa perempuan lebih banyak berbicara daripada laki-laki, temuan beberapa penelitian menunjukkan bahwa laki-laki mendengar lebih sedikit dan berbicara lebih banyak daripada perempuan (Catalan, 2003: 55).

Salah satu unsur pertuturan yang banyak dikaji selama hampir tiga dekade terakhir adalah kesantunan berbahasa (linguistic politeness). Munculnya kajian-kajian kesantunan ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa tak satupun dari teori tentang pertuturan yang ada, baik teori implikatur Grice maupun teori tidak tutur (speech act) mampu menjelaskan aspek penggunaan bahasa secara menyeluruh (Jaszczolt, 2002: 312). Prinsip-prinsip kerjasama yang ditawarkan Grice tidak mampu mencakup strategi pertuturan yang digunakan dalam percakapan. Sedangkan teori tidak tutur tidak mampu menjelaskan ungkapan tidak langsung. Untuk mengatasi keterbatasan kedua teori tersebut, dibutuhkan satu dimensi lain dalam kajian penggunaan bahasa, yang dikenal dengan kesantunan, yang oleh Lakoff (1990: 34) didefinisikan sebagai suatu sistem relasi interpersonal yang dirancang untuk memfasilitasi interaksi dengan cara meminimalisir potensi konflik dan konfrontasi yang secara alami terdapat dalam interaksi antar individu. Berbagai penelitian empiris maupun kajian teoritis yang ada menunjukkan bahwa kesantunan berbahasa digunakan sebagai sarana untuk mempertahankan keseimbangan sosial dan sekaligus menjadi dukungan interpersonal dalam rangka mencegah konfrontasi.

Kesantunan berbahasa sering dikelompokkan ke dalam dua jenis. Pertama, kesantunan tingkat pertama (first-order politeness), yang merujuk pada etiket atau azas kepatutan dalam bertingkahlaku dalam suatu masyarakat. Kedua, kesantunan tingkat kedua (second-order politeness), yang merujuk pada penggunaan bahasa untuk menjaga hubungan interpersonal. Sebagai contoh, Janney and Arndt (dalam Watts, dkk., 1992: 24) membedakan kesantunan sosial dan kesantunan interpersonal (yang juga disebut sebagai tact). Bagi mereka, kesantunan sosial (first order)  berfungsi untuk menyediakan strategi-stragi rutin dalam rangka mengatur interaksi sosial. Sedangkan kesantunan interpersonal (second-order)  mengacu pada kesantunan dalam tingkatan pragmatik yang berfungsi mendukung hubungan interpersonal dengan cara menjaga muka dan mengatur hubungan interpersonal.

Makalah ini menyajikan temuan dari penelitian yang berhubungan dengan second-order politeness, dengan fokus pada realisasi pertuturan berbahasa Indonesia di kalangan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Indonesia (FKIP-UKI) Jakarta ditinjau dari sudut pandang kesantunan berbahasa yang selama ini ada, seperti teori Grice (1973), Lakoff (1975), Leech (1983), dan Brown dan Levinson (1987). Penelitian ini diarahkan untuk melihat peran jender dan usia dalam realisasi pertuturan, khususnya dalam mengungkapkan penolakan (refusal). Untuk mencapai tujuan itu, para responden dihadapkan pada beberapa situasi yang menuntut mereka melakukan melakukan suatu perbuatan, padahal mereka sudah terlebih dahulu berkomitmen untuk mengerjakan hal lain. Dalam situasi seperti itu, secara logis, para penutur seharusnya menyampaikan penolakan. Namun, benarkah semua penutur secara otomatis mengungkapkan penolakan? Jika ungkapan yang timbul bukan penolakan, melainkan penerimaan, strategi kesantunan apa yang digunakan penutur agar dapat mereduksi dampak pelanggaran prinsip-prinsip keharmonisan komunikasi?

Untuk memperoleh jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan itu, data dikumpulkan melalui pengisian angket berupa Discourse Completion Test (DCT) dan wawancara yang dilaksanakan selama bulan Juni-Juli 2009. DCT yang digunakan dalam penelitian ini diadopsi dan dimodifikasi dari angket yang dikembangkan dalam Cross-cultural Speech Acts Realization Project (CCSARP) oleh Blum-Kulka, dkk. (1989). DCT hasil modifikasi itu memuat 10 pertanyaan yang terbagi dalam dua tipe. Dalam tipe A, setiap nomor diawali dengan paparan sebuah situasi yang harus direspon dengan memilih salah satu opsi yang tersedia serta menuliskan ungkapan yang digunakan pada tempat yang tersedia. Dalam tipe B, setiap nomor diawali dengan paparan sebuah situasi yang harus direspon dengan cara yang dientukan sendiri oleh responden. Wawancara dilakukan untuk meminta klarifikasi tentang jawaban yang diberikan para responden melalui angket. Karena keterbatasan waktu, wawancara hanya dapat dilakukan terhadap sekitar 50% responden termuda dan 50% reponden tertua. Keputusan untuk mewawancarai hanya responden kelompok termuda dan tertua diambil karena kelompok umur inilah yang dipilih jadi sampel penelitian (lihat tabel 1).

Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan menggunakan faktor jender dan usia sebagai pertimbangan utama. Melalui penelusuran dokumen berupa biodata 450 mahasiswa FKIP-UKI yang aktif kuliah, penulis memilih secara acak 20 mahasiswa berusia antara 18-23 tahun (10 perempuan dan 10 laki-laki) dan 20 mahasiswa berusia antara 40-48 tahun (10 perempuan dan 10 laki-laki) sebagai sampel. Penentuan kedua kelompok itu dilakukan untuk memperoleh dua kelompok dengan perbedaan umur yang cukup jauh. Hal ini dapat dilakukan mengingat rentang usia para mahasiswa yang ada cukup variatif karena adanya mahasiswa reguler (lulusan baru SMA yang langsung kuliah) dan mahasiswa penyetaraan (lulusan D3 yang melanjutkan studi untuk menyelesaikan program strata satu setelah bekerja  beberapa tahun). Empat puluh mahasisa tersebut kemudian dihubungi, diminta kesediaannya untuk mengisi angket dan menjawab beberapa pertanyaan sebagai konfirmasi terhadap apa yang dituliskan dalam angket.  Berdasarkan penjaringan data yang dilakukan, a mahasiswa yang mengisi angket dengan baik dan berhasil diwawancarai hanya 7 laki-laki dan 8 perempuan pada kelompok umur 18-23 tahun serta 5 laki-laki dan 7 perempuan pada kelompok umur 41-48 tahun. Dengan demikian, sampel nyata penelitian ini dapat digambarkan melalui tabel 1 berikut.

Tabel 1: Distribusi Responden Berdasarkan Umur dan Jender

               18-23 tahun

            41-48 tahun Jumlah
Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
          7          8 5 8

28

Kajian Teoretik

Peletak dasar kesantunan bahasa adalah Lakoff yang pada tahun 1973 menerbitkan artikel berjudul “The Logic of Politeness; or Minding your P’s and Q’s” (Jaszczolt, 2002: 312). Sejak saat itu, sejumlah besar penelitian tentang kesantunan bahasa telah dilaksanakan oleh berbagai bidang dan disiplin ilmu. Menurut Lakoff (1990), penelitian-penelitian itu dilaksanakan untuk meningkatkan kewaspadaan dalam berkomunikasi dan mengupayakan pemahaman yang lebih akurat mengenai isu-isu kesantunan dalam pertuturan. Akibatnya, kesantunan, sebagai titik tolak penelitian kebahasaan, diberi definisi dan interpretasi yang beraneka ragam. Padahal, tujuan utama kesantunan adalah untuk membangun keharmonisan hubungan antara penutur dan mitra tutur dalam sebuah interaksi sosial  (Thomas, 1995: 158). Dan mengingat bahwa kesantunan mendorong sikap kooperatif, hal itu merupakan sarana yang tepat untuk meneliti kerjasama dan persaingan dalam interaksi antara para mitra tutur berbeda usia maupun jender.

Brown dan Levinson (1987) menggagas teori kesantunan yang lebih komprehensif. Mereka menyatakan bahwa kesantunan berbahasa muncul sebagai sebuah penyimpangan dari hakikat pertuturan yang rasional dan efisien. Melalui kajian menyeluruh terhadap kesantunan berbahasa, mitra tutur akan memahami alasan bagi ketidakrasionalan dan inefisiensi ungkapan penutur. Teori tersebut dilandaskan oleh Brown dan Levinson (1987: 62) pada konsep muka (face), yang didefinisikan sebagai gambaran diri dihadapan publik yang dimiliki dan harus dipedomani oleh setiap individu dewasa yang rasional ketika dia berinteraksi dalam pertuturan. Muka mencakup dua aspek yang saling berhubungan: muka positif dan muka negatif.  Muka positif adalah keinginan semua penutur  agar wajah mereka disenangi lawan bicara. Sedangkan muka negatif merupakan keinginan semua penutur  agar tindakan mereka tidak dihambat oleh lawan bicara.

Secara umum, dalam setiap interaksi para mitra tutur akan bekerjasama untuk saling menjaga muka. Namun sebuah pertuturan tidak mungkin berlangsung tanpa adanya desakan atau intrusi dari satu pihak kepada otonomi pihak lainnya. Sebuah tindakan, seperti menyuruh seseorang duduk, merupakan sebuah potensi ancaman bagi mukanya. Tindak tutur seperti ini oleh Brown dan Levinson disebut sebagai tindak tutur yang berpotensi mengancam muka atau face-threatening acts (FTAs). Jika seorang penutur harus melakukan sebuah FTA, dia harus menentukan bagaimana hal itu harus diujarkan. Menurut Brown dan Levinson (1987: 69), pilihan pertama yang harus diambil adalah apakah FTA itu harus dilakukan secara langsung  (on record) atau tak langsung (off record). Jika yang dipilih adalah strategi on record, penutur dapat melakukannya secara langsung tanpa adanya tindakan yang berfungsi memperhalus atau mengurangi FTA. Tindak tutur seperti ini bersifat langsung, jelas, dan tidak ambigu. Sebaliknya, tindak tutur off record disertai dengan oleh tindakan penghalus sebagai upaya untuk memperlihatkan bahwa ancaman terhadap muka tidak diinginkan akan menjaga muka mitra tutur. Hal ini dapat dicapai dengan mengadopsi strategi kesantunan positif atau negatif.

Kesantunan positif adalah tindakan penyeimbang yang diarahkan untuk menjaga muka positif mitra tutur, yang dilakukan penutur dengan cara menunjukkan bahwa penutur menghargai keinginan dan kebutuhan mitra tutur. Sebaliknya, kesantunan negatif adalah tindakan penyeimbang yang diarahkan untuk menjaga muka negatif mitra tutur, yang dilakukan dengan cara menunjukkan niat penutur yang tidak bermaksud memperdaya mitra tutur melalui pembatasan terhadap tindakan mitra tutur. Strategi off record memampukan penutur menghindar dari tanggungjawab melakukan sebuah FTA. Hal ini dapat dicapai dengan melakukan implikatur percakapan (Grice, 1975).

Menurut Brown and Levinson (1987) terdapat tiga variabel sosial yang memengaruhi tingkat kesantunan antara penutur dan mitra tutur: tingkat kekuasaan relatif penutur terhadap mitra tutur atau ‘power’ (P), jarak sosial penutur dengan mitra tutur atau ‘social distance’ (D), and tingkat keabsolutan imposisi sebuah pertuturan (R). Peningkatan kekuasaan mitra tutur (P), jarak sosial (D), dan tingkat keabsolutan imposisi sebuah pertuturan (R) akan meningkatkan bobot sebuah FTA. Peningkatan bobot ini biasanya akan menghasilkan penggunaan kesantunan yang lebih tinggi.

Selain itu, Brown dan Levinson (1987) juga menidentifikasi lima tingkatan strategi kesantunan yang berpotensi mengancam muka pihak-pihak yang terlibat dalam suatu interaksi. Kelima FTA itu disusun dalam tingkatan hirarkis yang berbeda-beda, dimulai dari tindak tutur langsung hingga tidak tutur tidak langsung. FTA langsung, seperti pertuturan yang tercatat secara terus terang (baldly on record) dipandang berpotensi paling tinggi untuk mengancam muka para pihak yang terlibat, dan FTA tidak langsung, seperti pertuturan yang tidak tercatat secara terus terang (off record) dipandang berpotensi paling rendah sebagai ancaman dan sekaligus merupakan tindak tutur paling santun para pihak yang terlibat (2) kesantunan positif; (3) kesantunan negatif; (4) tindak tutur tidak langsung; dan (5) FTA. Dalam model Brown dan Levinson, kesantunan positif dan kesantunan negatif bersifat ekslusif dan saling menguntungkan (mutual), dan kesantunan negatif lebih mampu menjaga muka daripada kesantunan positif.

Meskipun teori Brown dan Levinson dianggap berlaku secara universal dalam realisasi pertuturan, berbagai penelitian terkini memperlihatkan teori tunggal yang dapat menjelaskan seluruh realisasi pertuturan tidak mungkin dibuat. Kajian-kajian di bidang pragmatik lintas budaya dan pragmatik kontrastif mengungkapkan bahwa tindak tutur memohon (requesting), meminta maaf (apologizing), mengeluh (complaining), berjanji (promising), dan mengucapkan terima kasih (thanking) direalisasikan secara berbeda dalam kebudayaan yang berbeda.

Penelitian Blum-Kulka, dkk. (1989) tentang perbedaan aspek-aspek realisasi pertuturan dalam bahasa Spanyol di Argentina, bahasa Inggris di Australia, bahasa Prancis di Kanada, bahasa Jerman di Jerman, dan bahasa Yahudi di Israel mengungkapkan adanya variasi dalam merealisasikan tindak tutur permohonan (request). Penutur bahasa Yahudi menggunakan ungkapan setara “can/could” lebih jarang dan menggunakan ungkapan setara denganwillingness/readiness” lebih sering dari penutur bahasa lain. Penutur bahasa Spanyol di Argentina menggunakan ungkapan setara dengan “prediction” lebih sering dari penutur bahasa lain. Penutur bahasa Inggris di Australia menggunakan tindak tutur paling tidak langsung, yang diikuti oleh penutur bahasa Jerman, penutur bahasa Prancis di Kanada, penutur bahasa Yahudi, dan penutur bahasa Spanyol di Argentina.

Kajian tentang pertuturan menolak masih sedikit sekali dilakukan baik dari sudut pandang sosiolinguistik (Beebe, dkk, 1990), apalagi dari sudut pandang pragmatik. Berikut ini adalah beberapa dari sedikit penelitian yang telah dilakukan di bidang ini.

Studi Beebe dan Takahashi (1989) diarahkan untuk mengungkap realisasi pertuturan menolak yang dilakukan oleh penutur bahasa Jepang yang sedang belajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing dengan pembanding orang Amerika. Banyak orang yang percaya bahwa orang Jepang adalah penutur bahasa yang memiliki ciri khas, misalnya seringkali mengungkapkan maaf dalam berbagai kesempatan, tidak bisa berbicara lugas, tak pernah mau mengkritik orang lain, lebih baik menghindarkan diri dari pertentangan, dan tidak mau mengatakan sesuatu yang mereka tak akan mau mendengarnya. Sementara itu, orang Amerika dipercaya sebagai penutur yang selalu lugas dan langsung ketika membuat penolakan. Temuan penelitian tersebut menunjukkan bahwa keyakinan kebanyakan orang tentang penutur bahasa Jepang tadi tidak selalu dapat dibuktikan, karena ternyata orang Jepang dapat berbicara dan menolak secara lugas dan langsung seperti halnya orang Amerika. Hal ini terutama mereka lakukan terhadap mitra tutur yang status sosialnya relatif lebih rendah daripada penutur. Akan tetapi, studi itu menunjukkan bahwa semakin mahir orang Jepang tadi dalam berbahasa Inggris, strategi penolakan yang mereka tunjukkan akan semakin tak langsung.

Temuan dalam studi Beebe, Takahashi, dan Ullis-Weltz (1990) mengungkapkan hal yang hampir mirip dengan temuan di atas. Tidak seperti orang Amerika, orang Jepang sering kali tidak menggunakan ungkapan maaf atau penyesalan, misalnya ketika mereka menolak sebuah undangan dari seorang mitra tutur. Selain itu, ketika membuat penolakan, orang Jepang lebih memperhatikan status mitra tutur daripada memperhatikan unsur keakraban, yang justru lebih diperhatikan oleh orang Amerika. Demikian pula studi yang dilakukan oleh Ito (1989), yang menunjukkan adanya perbedaan realisasi pertuturan menolak yang dlakukan oleh orang-orang Jepang bila dibandingkan dengan orang Amerika. Dengan menggunakan pola pikir yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson (1987), Ito menemukan bahwa orang Jepang lebih suka menggunakan kesantunan negatif dengan strategi yang samar-samar menunjukkan penolakan, sementara orang Amerika lebih suka dengan cara langsung mengatakan tidak dengan kesantunan positif.

Penelitian Widjaja (1997) difokuskan pada perbedaan realisasi pertuturan dalam menolak ajakan kencan di kalangan perempuan Taiwan dan perempuan Amerika. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kedua kelompok responden lebih suka menggunakan strategi kesantunan negatif (penolakan langsung, penolakan tidak langsung, ungkapan penyesalan, permohonan maaf, ungkapan keberatan, ungkapan menghindar, dan pernyataan terima kasih). Selain itu, ternyata perempuan Taiwan lebih suka berterus terang untuk menolak ajakan kencan.

Hasil penelitian yang dilakukan Aziz (2003) terhadap 107 responden di wilayah Jabotabek, Bandung, dan Tasikmalaya menunjukkan bahwa ketika membuat penolakan, responden cenderung untuk menggunakan strategi yang samar-samar disertai dengan berbagai ungkapan pelembut dan permohonan maaf atas ketakbisaan mengabulkan permohonan mitra tuturnya. Strategi lain yang juga cenderung mereka pakai adalah mengambangkan jawaban, sehingga menunjukkan keragu-raguan penutur untuk menerimanya. Ada juga kelompok responden yang nampaknya lebih memilih memberikan alternatif lain kepada mitra tuturnya agar permintaannya tersebut dapat tetap dikabulkan. Namun demikian, penutur bahasa Indonesia juga bisa membuat penolakan secara lugas dan langsung, sebab pada kenyataannya mereka juga memilih strategi tersebut, terutama ketika berhadapan dengan mitra tutur yang lebih muda, yang status sosialnya lebih rendah, dan yang memiliki tingkat keakraban tinggi, seperti teman sejawat, misalnya.

Deskripsi Data

Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini, ditemukan dua jenis jawaban yang diberikan para responden terhadap berbagai situasi yang dihadapi dalam angket isian, yaitu ungkapan menolak (refusal) dan ungkapan menerima (acceptance). Ungkapan menolak, secara garis besar, dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu menolak secara langsung (direct refusal) dan menolak secara tidak langsung (indirect refusal). Ungkapan menerima juga dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu menerima secara langsung (direct acceptance) dan menerima secara tidak langsung (indirect acceptance).

Ungkapan menolak secara langsung terdiri dari jawaban responden yang mengandung kata TIDAK atau yang sejenisnya, seperti ndak, nggak, atau ogah. Sebaliknya, ungkapan menolak secara tidak langsung merupakan jawaban responden yang tidak mengandung kata yang menegasikan (yakni kata TIDAK atau yang sejenisnya), namun, dilihat dari konteksnya jawaban tersebut pada hakikatnya menyampaikan penolakan. Ungkapan menerima secara langsung merupakan jawaban responden yang mengandung kata YA dan yang sejenisnya (OK, baik, baiklah, silahkan). Sedangkan jawaban yang pada hakikatnya menyampaikan penerimaan namun tidak mengandung kata YA dan yang sejenisnya dikategorikan sebagai ungkapan menerima secara tidak  langsung. Secara keseluruhan, strategi menolak dan menerima yang digunakan para responden terdiri dari enam belas ungkapan. (Lihat tabel 2).

Tabel 2: Kategori Jawaban

Kategori Jawaban MENOLAK Kategori Jawaban MENERIMA
1 Langsung mengatakan TIDAK 11 Langsung mengatakan YA
2 Ragu-ragu dan tidak bersemangat
3 Menawarkan jalan keluar 12 Jawaban Retorik
4 Menunda Keputusan
5 Menyalahkan pihak ketiga 13 Ungkapan solidaritas
6 Seperti menerima tapi tidak memberi kepastian 14 Menerima namun terlihat enggan
15 Menerima secara sembunyi
7 Menerima tapi dengan penyesalan 16 Diam
8 Memberi alasan dan penjelasan
9 Mengkritik dan marah
10 Menerima tapi bersyarat

Realisasi Ke(tak)santunan

Tingkat ke(tak)santunan tuturan yang digunakan para responden dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan empat kriteria sebagai parameter, yaitu: (1) tingkat kelugasan (level of directness), (2) pemakaian kata sapaan (terms of address), (3) pemakaian basa-basi (courtesy words) dan pemakaian kata-kata prokem (use of youth slang). Keempat kriteria ini kemudian digunakan sebagai alat ukur dalam menentukan ke(tak)santunan yang digunakan para responden ditinjau dari perbedaan usia dan jender, seperti yang akan disajikan berikut ini.

 

Kelompok Usia 18-23 Tahun 

Responden kelompok usia 18-23 tahun terdiri dari 15 orang (7 laki-laki dan 8 perempuan). Jawaban-jawaban yang diberikan kelompok ini tersebar hampir pada seluruh jawaban, walaupun sebaran itu tidak merata. Terdapat hanya tiga respon yang sama sekali tidak dipilih oleh responden kelompok usia ini, yakni (1) menyalahkan pihak ketiga; (2) langsung mengatakan YA ; dan (3) menerima secara sembunyi (lihat tabel 3).

Tabel 3: Sebaran Jawaban Kelompok Usia 18-23 Tahun


Kategori Jawaban N % dari 150[1] % dari 280[2] 
1. Langsung mengatakan TIDAK 48 32 17
2. Ragu-ragu dan tidak bersemangat 2 1.3 0.7
3. Menawarkan jalan keluar 24 16 8.6
4. Menunda Keputusan 5 3.3 1.7
5. Menyalahkan pihak ketiga 0 0 0
6. Seperti menerima tapi tidak memberi kepastian 2 1.3 0.7
7. Menerima tapi dengan penyesalan 15 10 5.3
8. Memberi alasan dan penjelasan 32 21.4 11.4
9. Mengkritik dan marah 4 2.7 1.7
10. Menerima tapi bersyarat 7 4,7 2.5
11. Langsung mengatakan YA 0 0 0
12. Jawaban Retorik 3 2 0.7
13. Ungkapan solidaritas 2 1.3 0.7
14. Menerima namun terlihat enggan 4 2.7 1.4
15. Menerima secara sembunyi 0 0 0
16, Diam 2 1.3 0.7
Jumlah 150 100%

Dilihat dari seluruh jawaban yang mereka berikan, dapat dikatakan bahwa responden kelompok usia muda (18-23 tahun) cenderung sangat lugas dan terang-terangan ketika menolak permintaan dari mitra tutur yang lebih muda. Respon yang mereka berikan ketika menghadapi situasi A#1, misalnya, adalah strategi pertama (langsung mengatakan TIDAK). Meskipun sebagian respon itu diiringi ungkapan penyerta, hal itu hanya berfungsi sebagai basa-basi yang sebenarnya tidak bermakna, seperti terlihat dari tiga contoh berikut:

[1]        Sorry. Gue sibuk banget, nih.

[2]        Jangan ganggu dulu, dong. Gue lagi sibuk. 

[3]        Aku sedang sibuk nih, besok saja kita ke toko buku. 

Alasan pendek sibuk banget atau sedang sibuk dalam setiap respon tersebut nampaknya ditujukan hanya untuk memperlunak nada penolakan penutur saja, dan dapat dipandang sebagai ketidakkooperatifan penutur terhadap mitra tuturnya. Dengan demikian, ungkapan itu menimbulkan kesan tak santun bagi mitra tutur.

Respon yang diberikan ketika menolak permintaan dari mitra tutur yang sebaya juga terlihat lugas, walaupun kelugasan itu cenderung lebih diperlunak dengan menggunakan ungkapan penyerta yang lebih panjang atau terkesan ‘rasional’, seperti terlihat dari beberapa jawaban yang dibuat sewaktu  menghadapi situasi A#2 dan B#4 berikut.

[3]        Gimana, ya? Aku sedang pake, nih, menyelesaikan tugas. Bisa, kan, m injam ke yang lain. 

[4]        Kalau tugas saya tinggal sedikit, boleh saja kamu pakai. Tapi saya masih harus memakainya sampai pagi. Maaf, ya. 

[5]        Maaf, ya Rosa. Aku sedang membaca dan merangkum buku. dan tugas itu harus diserahkan besok. 

[6]        Maaf, ya, saya tidak bisa ikut karena harus merangkum buku.

 

Melalui ungkapan-ungkapan di atas, terlihat adanya ketegasan penutur untuk menolak permintaan mitra tuturnya. Namun ketegasan itu “dibungkus” dengan pertanyaan retoris Gimana, ya? atau rasionalisasi penolakan agar terkesan lebih santun.

Jawaban para responden kelompok usia muda ini terkesan jauh lebih santun dan hati-hati ketika mereka menolak permintaan mitra tutur yang lebih tua. Strategi yang banyak digunakan untuk menolak permintaan mitra tutur yang lebih tua itu adalah strategi ketiga (menawarkan jalan keluar), ketujuh (menerima tapi dengan penyesalan), atau kedelapan (memberi alasan dan penjelasan). Sebagian responden memang ada yang menggunakan strategi pertama (langsung mengatakan TIDAK), namun hal itu selalu disertai basa-basi, alasan, dan permohonan maaf sebagai pelembut. Berikut ini adalah beberapa ungkapan penolakan yang digunakan para responden terhadap ibu, dosen, paman dan tante.

[7]         Maaf, Ma. Saya tidak bisa ikut karena besok ada ujian. Mama nggak mau nilai saya jelek, kan.

[8]         Maaf ya, Bu. Saya tidak bisa membantu Ibu karena harus menjaga ibu saya di R.S.

[9]         Maaf, Paman, Tante. Saya harus mengerjakan tugas kelompok. Bagaimana kalau besok saja jalan-jalannya?

[10]      Baik, Pak, Saya akan ikut ke Bogor kalau ada teman yang bisa menggantikan dalam panitia lomba 17-an di kelurahan saya.

Kata sapaan yang dipakai para responden kelompok usia muda (18-23 tahun) ini cenderung terpolarisasi dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah kata gue, gua, aku, lu, lo, elu, dan kamu, yang digunakan ketika berinteraksi dengan mitra tutur yang lebih muda atau sebaya. Kelompok kedua terdiri dari kata Saya, Pak, Bu, Ma(ma), Paman, dan Tante, yang digunakan ketika berinteraksi dengan mitra tutur yang lebih tua atau yang status sosialnya lebih tinggi (seperti terhadap dosen).

Karakteristik lain dari pertuturan para responden kelompok usia 18-23 tahun ini adalah penggunaan bahasa slang sewaktu berinteraksi dengan mitra tutur yang lebih muda atau sebaya. Ungkapan seperti Sorry, Mack, sibuk banget, Sorry Guy, bokap, dan nyokap merupakan slang yang lazim digunakan terhadap mitra tutur yang lebih muda atau sebaya. Namun ungkapan-ungkapan itu tidak pernah digunakan terhadap mitra tutur yang lebih tua atau berstatus lebih tinggi.

Temuan tentang penggunaan kata sapaan dan slang ini menunjukkan adanya kesadaran para penutur akan pentingnya menggunakan kata sapaan yang lebih santun terhadap mitra tutur yang lebih tua atau berstatus lebih tinggi. Sehubungan dengan itu, dapat dikatakan bahwa faktor senioritas dan status sosial merupakan faktor penentu dalam pemilihan tingkat kesantunan tindak tutur.

Kelompok Usia 41-48 tahun

Responden kelompok usia 41-48 tahun terdiri dari 13 orang (46% dari seluruh responden). Terdapat 130 jawaban yang diberikan kelompok usia senior ini, yang tersebar hampir dalam semua kategori, namun penyebarannya tidak merata (lihat tabel 4).

Tabel 4: Sebaran Jawaban Kelompok Usia 41-48 Tahun

Kategori Jawaban N % dari 130[3] % dari 280[4]
1)     Langsung mengatakan TIDAK 16 12.3 5.7
2)     Ragu-ragu dan tidak bersemangat 3 2.3 1.1
3)     Menawarkan jalan keluar 20 15.4 7.1
4)     Menunda Keputusan 4 3.1 1.4
5)     Menyalahkan pihak ketiga 1 0.7 0.36
6)     Seperti menerima tapi tidak memberi kepastian 24 18.5 8.6
7)     Menerima tapi dengan penyesalan 15 11.5 5.4
8)     Memberi alasan dan penjelasan 32 24.6 11.4
9)     Mengkritik dan marah 2 1.5 0.7
10)   Menerima tapi bersyarat 2 1.5 0.7
11)   Langsung mengatakan YA 3 2.3 1.1
12)   Jawaban Retorik 3 2.3 1.1
13)   Ungkapan solidaritas 0 0 0
14)   Menerima namun terlihat enggan 5 3.8 1.7
15)   Menerima secara sembunyi 0 0
16)   Diam 0 0 0
Jumlah 130 100%

Jika strategi penolakan langsung yang digunakan para responden kelompok usia muda (18-23 tahun) mencapai 32%, maka persentase penolakan langsung yang digunakan para responden kelompok usia senior hanya mencapai 12.3%. Temuan ini selaras dengan temuan bahwa strategi penolakan tidak langsung (termasuk strategi menawarkan jalan keluar, ragu-ragu dan tidak bersemangat, menunda keputusan, seperti menerima tapi tidak memberi kepastian, dan memberikan alasan atau penjelasan) yang digunakan para responden kelompok usia senior mencapai 64.6%, sedangkan  penolakan tidak langsung yang digunakan para responden kelompok usia muda hanya 43.3%. Data-data tersebut mengungkapkan bahwa strategi penolakan yang dipakai responden kelompok usia senior cenderung berbentuk tak langsung, tanpa melihat apakah mitra tutur mereka lebih muda sebaya, atau lebih tua. Meskipun terdapat beberapa penolakan dengan strategi langsung, hal itu selalu diikuti sejumlah ungkapan pelembut. Berikut ini adalah dua contoh penolakan yang mereka buat ketika menghadapi situasi A#1 dan A#3.

[11]      Maaf, ya dek. Kakak tidak bisa menemani kamu ke toko buku. Makalah ini harus diserahkan pada dosen besok pagi, jadi kakak harus menyelesaikannya sekarang.

[12]      Wah asyik juga tuh, konsernya. Tapi sayang saya tidak bisa ikut kalian nonton, karena saya harus menjaga adik-adik saya. Mungkin lain kali saja, ya.

 Cara ini kelihatannya dimaksudkan para penutur untuk mencegah agar mitra tuturnya tidak kecewa.

Dibandingkan dengan responden kelompok sebelumnya, para responden kelompok usia senior ini cenderung menggunakan kata sapaan yang formal. Meskipun kepada mitra tutur yang lebih muda dan sebaya mereka masih menggunakan kata sapaan yang akrab (informal), seperti Dek, Kamu dan Kalian, namun kepada mitra tutur yang lebih tua atau yang status sosialnya lebih tinggi (seperti terhadap dosen) mereka selalu menggunakan kata sapaan yang formal, seperti Saya, Pak, Bu, Paman, dan Tante.

Karakteristik lain dari pertuturan para responden kelompok usia senior ini adalah kecenderungan mereka mencegah penggunaan bahasa prokem (slang). Berbeda dengan para responden kelompok usia 18-23 tahun yang sering menggunakan ungkapan Sorry, Mack, sibuk banget, Sorry Guy, bokap, dan nyokap, para responden kelompok usia senior sama sekali tidak pernah menggunakannya. Temuan ini menunjukkan bahwa secara umum para penutur senior ini menganggap ragam bahasa prokem hanya pantas digunakan oleh kaum muda. Tidak tertutup kemungkinan bahwa dalam diri mereka terdapat prinsip bahwa bahasa prokem akan mengurangi kesantunan dalam interaksi dengan orang lain. Paling tidak, temuan ini mengungkapkan bahwa semakin tinggi usia seseorang, semakin tinggi pula kepeduliannya terhadap penggunaan ragam standar dan kosa kata yang formal.

 

Kelompok Perempuan

Responden perempuan berjumlah 16 orang, atau 57% dari seluruh reponden. Terdapat 160 jawaban yang diberikan kelompok perempuan ini, yang tersebar hampir dalam semua kategori, namun penyebarannya tidak merata (lihat tabel 5).

Tabel 5: Sebaran Jawaban Kelompok Perempuan

Kategori Jawaban N % dari 160[5] % dari 280[6]
[1]        Langsung mengatakan TIDAK 27 16.9 5
[2]        Ragu-ragu dan tidak bersemangat 2 1.25 0.7
[3]        Menawarkan jalan keluar 28 17.5 11
[4]        Menunda Keputusan 5 3.1 1.8
[5]        Menyalahkan pihak ketiga 1 0.6 0.36
[6]        Seperti menerima tapi tidak memberi kepastian 19 11.9 7.8
[7]        Menerima tapi dengan penyesalan 16 10 6.4
[8]        Memberi alasan dan penjelasan 44 27.5 15.7
[9]        Mengkritik dan marah 1 0.6 0.36
[10]     Menerima tapi bersyarat 5 3.1 1.8
[11]     Langsung mengatakan YA 2 1.25 0.7
[12]     Jawaban Retorik 4 2.5 3.2
[13]     Ungkapan solidaritas 0 0 0
[14]     Menerima namun terlihat enggan 4 2.5 1.4
[15]     Menerima secara sembunyi 0 0 0
[16]     Diam 2 1.25 0.7
Jumlah 160 100%

Berdasarkan jawaban yang mereka berikan, ditemukan bahwa penolakan langsung yang mereka gunakan hanya mencapai 16.9%, sedangkan strategi penolakan tidak langsung (termasuk strategi menawarkan jalan keluar, ragu-ragu dan tidak bersemangat, menunda keputusan, seperti menerima tapi tidak memberi kepastian, dan memberikan alasan atau penjelasan) mencapai 71.85%. Temuan ini mengindikasikan bahwa responden perempuan cenderung menggunakan strategi penolakan tak langsung dibandingkan dengan penolakan langsung.

Temuan lain yang menonjol dari jawaban yang diberikan para responden perempuan adalah frekuensi yang cukup tinggi (27.5%) dalam menggunakan strategi memberikan alasan atau penjelasan yang cukup panjang sebagai pelembut. Hal ini kelihatannya dimaksudkan agar mitra tutur mereka tidak kecewa. Berikut ini adalah dua contoh penolakan dibuat responden perempuan.

[13]     Maaf ya, Bu. Saya tidak bisa membantu Ibu karena saya mendapat giliran  menjaga ibu saya di R.S. Kalau saja saya tidak harus jaga di RS, saya akan sangat senang dapat membantu ibu.

[14]     Aduh, bagaimana, ya. Aku sedang membaca dan merangkum buku. dan tugas itu harus diserahkan besok. Mungkin lain kali aja, ya, saya ikut nonton.

 

Kelompok Laki-laki

Responden laki-laki terdiri dari 12 orang, atau 43% dari seluruh reponden. Terdapat 120 jawaban yang diberikan kelompok laki-laki ini, yang tersebar hampir dalam semua kategori, namun penyebarannya tidak merata (lihat tabel 6).

Tabel 6: Sebaran Jawaban Kelompok Laki-Laki

Kategori Jawaban N % dari 120[7] % dari 280
[1]        Langsung mengatakan TIDAK 37 30.8 13.2
[2]        Ragu-ragu dan tidak bersemangat 3 2.5 1.07
[3]        Menawarkan jalan keluar 20 17 7.1
[4]        Menunda Keputusan 4 3.3 1.4
[5]        Menyalahkan pihak ketiga 0 0 0
[6]        Seperti menerima tapi tidak memberi kepastian 7 5.8 2.5
[7]        Menerima tapi dengan penyesalan 14 11.7 5
[8]        Memberi alasan dan penjelasan 20 17 7.1
[9]        Mengkritik dan marah 5 4.17 1.8
[10]     Menerima tapi bersyarat 4 3.3 1.4
[11]     Langsung mengatakan YA 1 0.8 0.35
[12]     Jawaban Retorik 2 1.7 0.7
[13]     Ungkapan solidaritas 2 1.7 0.7
[14]     Menerima namun terlihat enggan 5 4.17 1.8
[15]     Menerima secara sembunyi 0 0 0
[16]     Diam 0 0 0
Jumlah 120 100%

Berdasarkan jawaban yang mereka berikan, ditemukan bahwa penolakan langsung yang kelompok laki-laki mencapai 30.8%, sedangkan strategi penolakan tidak langsung (termasuk strategi menawarkan jalan keluar, ragu-ragu dan tidak bersemangat, menunda keputusan, seperti menerima tapi tidak memberi kepastian, dan memberikan alasan atau penjelasan) mencapai 57.3%. Temuan ini memperlihatkan bahwa responden laki-laki sering menggunakan strategi penolakan langsung dibandingkan dengan responden perempuan, meskipun kedua kelompok itu memiliki kecenderungan yang sama-sama tinggi untuk menggunakan strategi penolakan tak langsung.

Dibandingkan dengan proporsi penggunaan strategi memberikan alasan atau penjelasan yang cukup panjang sebagai pelembut oleh para responden perempuan yang cukup tinggi (27.5%), proporsi penggunaan strategi tersebut oleh oleh para responden laki-laki hanya mencapai 17%. Kalaupun responden laki-laki menggunakan strategi memberikan alasan atau penjelasan yang cukup panjang sebagai pelembut, penjelasan mereka relatif lebih singkat. Temuan ini mengindikasikan bahwa responden laki-laki lebih cenderung menggunakan ungkapan yang lebih singkat . Berikut ini adalah dua contoh penolakan dibuat responden laki-laki sewaktu menghadapi situasi yang sama dengan yang dihadapi oleh responden perempuan pada contoh [13] dan [14].

[15]     Maaf ya, Bu. Saya tidak bisa membantu karena harus menjaga Ibu saya yang sakit.

[16]     Maaf, Rosa. Lain kali saja Aku ikut. Sekarang Aku harus menyelesaikan tugas

 

Kesimpulan

Berdasarkan paparan dan analisis di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan berikut:

  1. Dibandingkan dengan penutur berusia senior, para penutur berusia muda lebih cenderung menggunakan ungkapan yang lugas dan terang-terangan (dengan menggunakan strategi penolakan langsung) ketika menolak permintaan dari mitra tutur yang lebih muda dan sebaya. Akan tetapi ketika menolak permintaan dari mitra tutur yang lebih tua, sama dengan penutur berusia senior, para penutur berusia muda cenderung menggunakan strategi tak langsung, seperti menawarkan jalan keluar, menerima tapi dengan penyesalan,  atau memberi alasan dan penjelasan. Kalaupun mereka menggunakan strategi penolakan langsung, hal itu selalu disertai basa-basi, alasan, dan permohonan maaf sebagai pelembut.
  2. Para penutur berusia muda juga banyak menggunakan ragam bahasa slang serta kata sapaan tak formal ketika berinteraksi dengan mitra tutur yang lebih muda dan sebaya. Akan tetapi ketika berinteraksi dengan mitra tutur yang lebih tua, ragam bahasa dan kata sapaan  formal menjadi pilihan utama.
  3. Dilihat dari segi jender, penutur laki-laki lebih sering menggunakan strategi penolakan langsung.
  4. Bila strategi penolakan tak langsung yang digunakan penutur perempuan dan laki-laki dibandingkan,. Terlihat bahwa tuturan kelompok perempuan cenderung disertai penjelasan atau alasan yang lebih panjang dibandingkan penutur laki-laki. Hal ini dilandasi oleh keinginan penutur perempuan yang lebih tinggi dalam hal mencegah kekecewaan mitra tutur mereka.
  5. Perbedaan-perbedaan karakteristik penuturan yang ditemukan diantara kelompok-kelompok tersebut menyiratkan adanya perbedaan pandangan tentang fenomena kesantunan berbahasa antara generasi yang berbeda dan antara perempuan dan laki-laki.

 

Daftar Pustaka

Aziz, E. Aminudin. 2003. “Usia dan Realisasi Kesantunan Berbahasa: Sebuah Studi Pragmatik pada Para Penutur Bahasa Indonesia”. Dipublikasikan dalam PELBBA 16 (Kumpulan Makalah Pertemuan Linguistik Pusat Kajian Bahasa Atma Jaya: Keenam Belas). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Beebe, L.M. dan T. Takahashi. 1989. “Do you have a bag? Social status and patterned variation in second language acquisition”. Dalam S.M. Gass, C. Madden, D. Preston, dan L. Selinker (ed). Variation in second language acquisition vol I: sociolinguistic issues. Clevedon: Multilingual Matters.

Beebe, L.M., T. Takahashi and R. Ullis-Weltz. 1990. “Pragmatic Transfer in ESL Refusals”. Dalam R.C. Scarcella, E.S. Anderson, dan S.D. Krashen (ed). Developing communicative competence in a second language. NY: Newbury House.

Blum-Kulka et al. 1989. Cross-Cultural Pragmatics: Request and Apologies. Norwood. Ablex Publishing Corporation.

Brown, P. and S. C. Levinson. 1987. Politeness: Some universals in Language usage. Cambridge: Cambridge University Press.

Catalan, Rosa María Jiménez. 2003. “Sex differences in L2 vocabulary learning strategies”. Published in International Journal Of Applied Linguistics, Vol. 13, No. 1, 2003. Oxford: Blackwell Publishing Ltd.

Crystal, David. 2008. A Dictionary of Linguistics and Phonetics (6th ed.). Malden: Blackwell Publishing.

Grice, H.P. 1975. Logic and Conversation. In Peter Cole and J.L. Morgan (eds.) Syntax and Semantics, Vol. 3: Speech Acts, New York: Academic Press. pp. 41 – 58.

Ito, Y. 1989. Strategies of disagreement: a comparison of Japanese and American usage. Sophia Linguistica, 27, 193-203.

Jaszczolt, K.M. 2002. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse.  London: Pearson Education Ltd.

Lakoff, R. T. 1990. Talking Power: The Politics of Language in Our Lives. Glasgow: Harper Collins.

Leech, G. 1983. Principles of Pragmatics. London: Longman.

Llamas, Louise Mullany and Peter Stockwell (eds.). 2007. The Routledge Companion to Sociolinguistics. New York: Routledge.

Malmkjær, Kirsten. 2002. The Linguistics Encyclopedia Second Edition. New York: Routledge.

Nelson, G. L., Carson, J., Al Batal, M., & El Bakary, W. 2002. “Cross-cultural pragmatics: Strategy use in Egyptian Arabic and American English refusals”. Published in Applied Linguistics, 23 (2), 163-189.

Singh, Ishtla and Jean Stilwell Peccei (eds.). 2004. Language, Society, and Power. New York: Routledge.

Thomas, J. (1995). Meaning in Interaction. New York: Longman.

Watts, R. J., S. Ide & K. Ehlich (Eds.).1992. Politeness in Language. Berlin: Mouton de Gruyter.

Widjaja, C. S. 1997. “A study of date refusals: Taiwanese females vs. American females”. University of Hawai’i Working Papers in ESL, 15 (2), 1-43.

Catatan: Makalah ini dipresentasikan dalam Forum Ilmiah Dwi-Bulanan FKIP-UKI, 9 Oktober 2009


[1]   Angka 150 ini merupakan jumlah jawaban yang diperoleh oleh DCT kelompok usia 18-23 tahun, yang berasal dari hasil perkalian antara jumlah responden kelompok usia 18-23 tahun dengan 10 situasi. Jadi, 15 X 10= 150.

[2]  Angka 280 ini merupakan jumlah jawaban yang diperoleh oleh seluruh DCT, yang berasal dari hasil perkalian antara jumlah seluruh responden dengan 10 situasi. Jadi, 28 X 10= 280

[3] Angka 130 ini merupakan jumlah jawaban yang diperoleh oleh DCT kelompok usia 41-48 tahun, yang berasal dari hasil perkalian antara ke 13 responden kelompok usia 41-48 tahun dengan 10 situasi. Jadi, 13 X 10= 130.
 
[4]  Angka 280 ini merupakan jumlah jawaban yang diperoleh oleh seluruh DCT, yang berasal dari hasil perkalian antara jumlah seluruh responden dengan 10 situasi. Jadi, 28 X 10= 280
 
[5]  Angka 160 ini merupakan jumlah jawaban yang diperoleh oleh DCT kelompok perempun, yang berasal dari hasil perkalian antara ke 16 responden perempuan dengan 10 situasi. Jadi, 16 X 10= 160.
 
[6]   Angka 280 ini merupakan jumlah jawaban yang diperoleh oleh seluruh DCT, yang berasal dari hasil perkalian antara jumlah seluruh responden dengan 10 situasi. Jadi, 28 X 10= 280
 
[7]   Angka 130 ini merupakan jumlah jawaban yang diperoleh oleh DCT kelompok usia 41-48 tahun, yang berasal dari hasil perkalian antara ke 13 responden kelompok usia 41-48 tahun dengan 10 situasi. Jadi, 13 X 10= 130.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s